Berbagi Cerita tanpa Rasa Takut

Tahun ini, Asia Media Conference mengambil tema Digital Empathy: Reporting Like a Humanitarian

0
195
views
Sahar Habib Ghazi, narasumber dari Media Maters for Democracy-Pakistan (depan) saat sesi diskusi “Telling Stories Like a Humanitarian: Challenges and Opportunities in The Digital Age – 2019 Asia Media Conference, Selasa (27/11) di Swiss Bell Hotel Watu Jimbar, Bali. Foto: ICRC
  • Artikel Redaksi
  • Untuk membangun empati dan rasa kemanusiaan dalam membuat laporan jurnalistik, International Committee of The Red Cross (ICR) mengundang 28 jurnalis dari 17 negara, seperti Australia, Thailand, Afganistan, Indonesia, Pakistan, India dan Timor Leste untuk membincang persoalan itu.

    Selama dua hari, peserta mendiskusikan tentang pemanfaatan teknologi digital untuk membuat laporan kemanusiaan saat kondisi krisis karena konflik, perang atau bencana alam dengan pendekatan empati.

    Alexandre Faite, Kepala Delegasi Regional ICRC untuk Indonesia dan Timor Leste mengatakan, profesi pekerja kemanusiaan dan jurnalis memiliki kesamaan prinsip: bekerja imparsial dan netral.

    “komitmennya untuk berbagi cerita tanpa takut. Karena dua pekerjaan ini memiliki kesamaan, kepedulian pada masyarakat,” kata Faite, seperti dikutip dari rilis.

    Oleh karena, lanjut Faite, sejak 2006, ICRC telah mempertemukan pekerja kemanusiaan dan jurnalis untuk membangun kolaborasi menjaga kepentingan kemanusiaan.

    Asia Media Conference sebelumnya diselenggarakan di Dhaka, Sydney, Manila, Hiroshima, Seoul, dan Bangkok. Tahun ini digelar di Pulau Bali, Indonesia.

    Tahun ini, Asia Media Conference mengambil tema Digital Empathy: Reporting Like a Humanitarian.

    Dalam acara tersebut, peserta mendapatkan beragam materi, salah satunya regulasi yang berlaku saat konflik berdasarkan prinsip Hukum Humaniter Internasional.

    Di sini, ICRC memperkenalkan teknologi Virtual Reality untuk mengajak jurnalis memahami kondisi wilayah konflik bersenjata, dan membangun empati pada masyarakat di wilayah konflik.

    Selain belajar teknologi secara langsung, peserta juga mendapatkan tema tentang bagaimana peliputan isu kemanusiaan dan pemanfaatan sosial media untuk mendistribusikan berita.

    ICRC mengundang Tempo dan Vice News Asia untuk membedah dapur dua media tersebut.

    Selain itu, ICRC mengundang Twitter untuk menjelaskan kolaborasi yang dapat dibangun dengan jurnalis untuk pemanfaatan platform sosial media untuk mendorong perubahan.

    Pada hari kedua konferensi, ICRC bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia untuk menggelar dua minilabs tentang Cek Fakta dan Keamanan Digital.

    Sekretaris Jenderal AJI Indonesia Revolusi Reza mengatakan, teknologi seperti pisau bermata dua.

    Menurut Revo, kemajuan teknologi mengancam keberlangsungan jurnalisme itu sendiri, dan maraknya hoax ini menjadi keprihatinan tersendiri.

    Selain itu, lanjut Revo, teknologi juga dapat memunculkan ancaman terhadap kerja-kerja jurnalistik, termasuk jurnalis yang meliput isu kemanusiaan dan konflik.

    Dalam sambutannya, Revo mengatakan, dalam kondisi konflik perundungan (bullying) melalui dunia siber, atau doxing, kepada Jurnalis semakin meningkat.

    "Kami mendorong jurnalis mendapat pembekalan serta lebih peduli dengan keselamatan saat melakukan peliputan konflik," katanya.

    [Tulisan diolah dari rilis AJI Indonesia]

    (Visited 50 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here