Cuaca Ekstrim Hujan Lebat Pasca Banjir Jakarta

BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrim yaitu curah hujan dengan intensitas lebat yang disertai kilat/petir dan angin kencang selama seminggu ke depan di beberapa wilayah Indonesia.

1
385
views
Peta prakiraan cuaca ekstrim yang terjadi pada 1 -7 Januari 2020. Sumber : BMKG

Artikel: Jay Fajar & Anton Kurnia

Pasca banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberi peringatan indikasi peningkatan potensi cuaca ekstrim yaitu curah hujan dengan intensitas lebat yang disertai kilat/petir dan angin kencang selama seminggu ke depan di beberapa wilayah Indonesia.

Prakiraan cuaca ekstrim dipicu fenomena atmosfer skala regional hingga lokal, yaitu aktifnya Monsun Asia penyebab meningkatnya massa udara basah yang terkonvergensi dan adanya perlambatan kecepatan angin di beberapa wilayah Indonesia sehingga membentuk awan hujan. Serta diperkuat fenomena gelombang atmosfer (Equatorial Rossby Wave dan Kelvin Wave) yang signifikan.

Potensi cuaca ekstrim curah hujan lebat dengan kilat dan angin kencang ini diprakirakan terjadi pada 01 – 04 Januari 2020 di wilayah Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, NTB, NTT, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Papua

Prakiraan cuaca ekstrim itu berlanjut pada 05 – 07 Januari 2020 di wilayah Bengkulu, Jabar, Jateng, Jatim, Yogyakarta, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat dan Papua

Oleh karena itu, masyarakat diminta waspada dengan dampak cuaca ekstrim yaitu banjir bandang, tanah longsor, angin kencang dan sebagainya.

Rekor Tertinggi Curah Hujan

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo mengatakan salah satu penyebab banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya mulai Rabu (1/1/2020) adalah curah hujan yang sangat lebat yang berlangsung sekitar 24 jam hingga mencapai lebih dari 300 mm/hari.

“Di daerah Halim curah hujan mencapai rekor tertinggi yaitu mencapai 377 mm. Kemudian di daerah sekitar TMII 350 mm dan di sekitar Jati Asih 270 mm," jelas Doni, pada Rabu (1/1/2020) siang seperti dikutip dari jawapos.com.

Jadi ini merupakan suatu rekor curah hujan tinggi dalam beberapa jam terakhir,” imbuhnya.

Doni menyebutkan data curah hujan tersebut dari menyampaikan, merujuk pada data (BMKG) permukaan laut melebihi batas ketinggian, hingga 184 cm. Padahal, normalnya hanya 160 cm.

BMKG sendiri mencatat intensitas curah hujan ketika beberapa kali Kota Jakarta dilanda banjir besar yaitu 216 mm/hari pada tahun 1996, 168 mm/hari pada 2002, 340mm/hari pada 2007, 250mm/hari pada 2008, 100mm/hari pada 2003, dan 277mm/hari pada 2015 dan serta 100 – 150 mm/hari pada 2016.

Sehingga curah hujan pada Selasa (31/12/2019) hingga Rabu (1/1/2020) di Jakarta merupakan rekor curah hujan tertinggi sejak banjir tahun 2007.

Inilah yang disebut cuaca ekstrem sebagai salah satu dampak dari perubahan iklim yang semakin meluas

Hujan pada awal tahun baru kali itu sangat ekstrem dan melanda sebagian besar Jawa bagian Barat-Utara sehingga menyebabkan banjir besar dan merata di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung Barat, bahkan Cikampek dan Cipali.

Sedangkan Hadi Saputra, Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Kelas I Bogor saat dihubungi Mongabay Indonesia Rabu (01/01/2020) menjelaskan saat ini terjadi pertemuan wilayah angin atau inter tropical convergen zone (ITCZ) di atas pulau Jawa sampai 3 Januari 2020. Angin itu terus bergerak dari barat menuju timur pulau Jawa.

“Ditambah lagi hujan ini seakan di tumpuk di akhir tahun. Hujan yang seharusnya sudah dimulai di bulan September, tidak terjadi," kata Hadi.

,"Hujan baru turun di awal bulan Desember. Sehingga air hujan seakan ditumpahkan dari langit dan mengalami puncaknya di akhir tahun,” lanjutnya.

Hadi menjelaskan mundurnya musim hujan ini disebabkan adanya fenomena dipole mode positif di atas dua, yang terakhir terjadi pada tahun 1900-an atau 100 tahun yang lalu.

“Dipole mode adalah perbedaan suhu di Samudra Indonesia bagian barat (sekitar Sumatera dan Jawa) dengan suhu di timur Afrika. Dikatakan positif berarti suhu di laut Indonesia lebih dingin dibandingkan dengan di Afrika, itu sebabnya tidak uap air di atas Indonesia, sehingga musim hujan pun mundur,” katanya.

Sedangkan daerah yang mengalami banjir di Jakarta dari data yang dihimpun BNPB sampai jam 23.00 hari Rabu (1/1/2020) ada di 63 lokasi yaitu 7 lokasi di Jakarta Barat, 2 lokasi di Jakarta Pusat, 39 lokasi di Jakarta Selatan, 13 lokasi di Jakarta Timur, dan 2 lokasi di Jakarta Utara.  Sejumlah lokasi itu terendam banjir dengan ketinggian bervariasi dari 30 cm hingga 200 cm.

Untuk update tinggi permukaan air sungai di Jakarta bisa dilihat di tautan ini

BNPB bersama BPBD DKI Jakarta, TNI/POLRI, instansi terkait serta relawan dari berbagai pihak telah terjun mengevakuasi warga terdampak banjir. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini telah menyediakan 5 posko siaga banjir yang terletak di Kantor Walikota masing-masing Kotamadya.

Pemprov DKI Jakarta juga membuka posko logistik bantuan banjir di lima wilayah walikota yaitu di Jakarta Pusat berlokasi di Gedung Balaikota DKI, Kantor BPBD DKI Jakarta, Kantor Walikota Jakarta Pusat dan Taman Asuhan Anak Pertiwi.

Di Jakarta Timur ada di Kantor Walikota Jakarta Timur, Kampus Universitas Borobudur, Kantor SUDIN Kesehatan Jakarta Timur, dan Kampus Binawan.

Untuk Jakarta Barat, posko logistik di Kantor Walikota Jakarta Barat, Kantor Kecamatan Cengkareng.

Di Jakarta Utara, posko logistik ada di Kantor Walikota Jakarta Utara, Jakarta Islamic Centre. Sedangkan di Jakarta Selatan berlokasi di Kantor Walikota Jakarta Selatan dan Jl. Bina Warga, Rawajati, Pancoran.

Instruksi Presiden

Presiden Joko Widodo sendiri dari Yogyakarta, telah menginstruksikan semua pihak terkait untuk menangani banjir di Jakarta dan sekitarnya.

“Saya memerintahkan semua jajaran terkait, dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah provinsi, hingga Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas untuk bergerak bersama-sama menyelamatkan warga, dan memberikan rasa aman kepada masyarakat,” kata Jokowi.

Jokowi juga menginstruksikan fasilitas-fasilitas umum seperti beberapa ruas jalan, jalan tol, dan obyek vital yang terdampak banjir seperti Bandara Halim Perdanakusumah agar segera dinormalisasi.

Ketiga, pemerintah pusat dan pemerintah provinsi tetap bekerja sama dalam menanggulangi bencana banjir. Waduk Cimahi dan Ciawi di Jawa Barat yang sedang dibangun untuk menampung dan mengurangi debit air banjir yang mengalir ke ibu kota baru akan selesai tahun depan.

Artikel ini merupakan konten kolaborasi dengan Mongabay Indonesia. Konten serupa bisa dibaca di sini

(Visited 44 times, 1 visits today)
Please follow and like us:

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here