Lelaki Tua yang Memilih Berumah di Kebun Kayu Putih

Berdasarkan data, setiap tahun ada sekitar 25-30 kejadian gantung diri, dan 39 persennya kelompok lanjut usia.

0
384
views
Wasikan, lelaki tua yang memilih Kebun Kayu Putih milik Perthutani sebagai tempatnya membangun rumah. Foto: Dony P. Herwanto | seluang institute

Artikel : Dony P. Herwanto

Semenjak ditinggal mendiang istri, Wasikan memilih tinggal dan menetap di kebun kayu putih milik Perhutani, di Desa Kedung Keris, Kecamatan Nglipar, Gunung Kidul, Yogyakarta. Di petak 40 itulah, Wasikan membangun rumah dari jerami dan batang-batang kayu putih.

Di rumah itulah, Wasikan ingin menghindari keributan yang kerap terjadi di keluarga mendiang istrinya. Keributan kecil yang bersumber dari kehadiran Wasikan di rumah milik adik istrinya itu. Keributan yang kerap membuat Wasikan merasa bersalah.

Siang itu, Wasikan duduk di depan rumah yang menghadap hamparan pohon kayu putih yang daunnya belum siap dipanen. Ada pohon jati yang daunnya berguguran. Ada sungai yang mengering. Ada pohon mangga yang belum berbuah. Juga ada kenangan. Kenangan manis Wasikan dengan istrinya, meski tidak di rumah ini.

Wasikan berjalan menuju dapur yang disusun dari batu-batuan andesit yang ada di kebun kayu putih. Ia sedang memasak air ketika Cintiyawatie Raharja, Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS), Kecamatan Nglipar Gunung Kidul datang ke rumahnya. Cintiya tak sendiri. Dia bersama 4 rekan sesama pengurus LKS.

Wasikan mempersilahkan tamu-tamunya itu untuk masuk ke bangunan yang disebutnya sebagai ruang tamu. Panjangnya 6 meter, dan lebar sekira 3 meter. Terbuat dari rumbia dan batang pohon kayu putih. Wasikan membangun rumah itu seorang diri.

Cintiya masuk paling belakang. Dia membawa beras, teh, mie instant dan biskuit. “Ini buat Mbah Wasikan,” kata Cintiya sambil menyerahkan bingkisan itu.

Wasikan tersenyum. Lalu mempersilahkan Cintiya masuk ke dalam ruang tamunya. “Sepatunya nggak usah dilepas. Pakai saja,” ucap Wasikan. Cintiya menolaknya.

“Sudah dengar Mbah Murtiningsih meninggal, mbah?” kata Cintiya membuka pembicaraan.

“Sudah. Aku sudah mendengarnya. Itu karena pikirannya stress,” jawab Wasikan. “Kalau aku kan tidak mudah stress pikirannya,” sambungnya.

Cintiya menunjukkan video dan foto kondisi saat Mbah Murtiningsih meninggal kepada Mbah Wasikan. Ada air mata di mata lelaki 83 tahun itu.Air mata yang sama saat istrinya meninggal sebelum gempa Yogyakarta 2006, silam.

Di Kabupaten Gunung Kidul, bunuh diri dengan cara gantung diri memang terbilang tinggi untuk wilayah Yogyakarta. Berdasarkan data, setiap tahun ada sekitar 25-30 kejadian gantung diri, dan 39 persennya kelompok lanjut usia. Kelompok rentan yang kerap dilupakan keberadaannya.

Angin bertiup tipis. Matahari mulai menuju peraduannya. Cintiya dan dan teman-temannya undur diri, meninggalkan rumah berdinding dan beratap rumbia milik Wasikan. Meninggalkan Kebun Kayu Putih milik Pehutani yang tandus itu.

Wasikan hanya bisa menatap kepergian tamu-tamunya itu. Tamu yang setiap sepekan sekali mengunjungi dirinya yang tak memiliki sanak saudara itu. Tamu yang perduli dengan keadaan dan kesehatan mental dirinya.

***

Malam di Gunung Kidul terbilang panas. Wilayah yang sebagian berupa perbukitan dan pegunungan kapur atau bagian dari Pegunungan Sewu ini dikenal tandus dan sering mengalami kekeringan.

Meski letaknya lebih tinggi daripada Kota Yogyakarta, Gunung Kidul tidak terbilang dingin untuk kawasan dataran tinggi. Tak sulit untuk menuju ke Gunung Kidul. Daerah yang dikaruniai pemandangan alam yang luar biasa.

Gunung Kidul sendiri memiliki lluas 1.485 kilometer per segi. Dengan total penduduk pada tahun 2017 sebanyak 729.364 jiwa dan kepadatan sebesar 491,04 jiwa per kilometer per segi.

Dengan luas sekitar satu per tiga dari luas Yogyakarta, Gunung Kidul relatif rendah kepadatan penduduknya jika dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lainnya di Yogyakarta.

Di sisi utara, Gunung Kidul berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Sukoharjo. Kabupaten Wonogiri di sebelah timur, Samudera Hindia di sisi Selatan.  Sementara di bagian barat, Gunung Kidul berbatasan dengan Kabupaten Bantul dan Sleman.

Dengan titik koordinat yang strategis, Gunung Kidul mengandalkan potensi wisata untuk menyumbang pendapatan asli daerahnya. Sayangnya, dengan PAD yang tinggi di sektor wisata kurang cukup memengurangi tingkat kemiskinan warganya. Bahkan, ketimpangan ekonomi terlihat di mana-mana.

Dari data Analisis Kemiskinan Gunung Kidul 2019 yang dikeluarkan BPS Gunung Kidul, nilai gini ratio tahun 2018 mencapai 0,337 atau termasuk kategori ketimpangan moderat. Nilai tersebut lebih rendah dibanding tahun 2017 yang sebesar 0,340.

Dengan kata lain, distribusi pendapatan penduduk Gunung Kidul di tahun 2018 lebih merata di banding tahun 2017. Meski masih terlihat beberapa ketimpangan di kalangan masyarakat.

Tapi jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Yogyakarta, nilai gini ratio Gunung Kidul adalah yang terendah dari tahun ke tahun.

Meski distribusi pendapatan lebih merata dibanding daerah lain, justru faktor ini menjadi alasan kuat beberapa warga mengakhiri hidup dengan melakukan bunuh diri.  Sungguh ironis.

Padahal, dari data BP, jumlah penduduk miskin di Gunung Kidul pada tahun 2018 sebesar 125,76 ribu orang atau hanya 17,12 persen dari total penduduk.

Dan Wasikan, 1 orang dari 17,12 persen penduduk miskin di Gunung Kidul yang juga rentan mengakhiri hidup dengan cara yang tidak wajar itu.

**

Matahari pagi muncul dari belakang bukit tandus di depan rumah Wasikan. Wasikan bangun dengan punggung yang nyeri. Setiap hari, Wasikan tidur hanya beralas kasur lipat yang tipisnya sudah menyerupai kardus mie instan pemberian Cintiya dan LKS Kedung Keris.

Wasikan sedikit bergegas menuju dapur yang dibangun terpisah dari tempatnya tidur. Berdinding tumpukan batu yang dia kumpulkan dari Kebun Kayu Putih.

Di dapur, Wasikan harus duduk. Tinggi dapurnya tak lebih dari orang dewasa yang merunduk.

Batu-batunya sudah terlihat sangat tua dan kuat. Hitam dari hasil panas api tungku masak milik Wasikan. Pagi itu, Wasikan ingin memasak air. Ia ingin membuat teh panas sebelum pergi memetik daun kayu putih.

Di luar, angin berhembus tipis. Hembusan khas Gunung Kidul. Tak ada orang lain di kebun ini selain Wasikan. Hari itu, dia harus memanen daun kayu putih. Akan ada truk yang masuk kebun membawa daun-daun itu.

“Saya hanya bisa mengumpulkan 3 karung saja. Sudah tenaga tua,” kata Wasikan, sambil berjalan meninggalkan rumahnya.

Sebelum memanen daun kayu putih, Wasikan sempatkan menuju sumber mata air satu-satunya yang tersisa. Letaknya di bekas aliran sungai yang mengering akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

Ia mengambil air dengan ember yang tak sempurna. Menyiram lahan kacang tanah seluas 40 meter di tepi sungai. “Ini juga saya jual. Sisanya untuk di rumah jika ada tamu,” ucapnya.

Tamu yang ia maksud adalah mandor-mandor kebun kayu putih yang numpang neduh di rumah Wasikan.

Matahari sudah hampir tepat di atas kepala Wasikan. Kebun kayu putih makin panas. Legam kulit Wasikan menjadi penanda tentang kerja kerasnya selama ini. Kerja keras yang dia lakukan agar tetap waras.

Tiga karung berisi daun kayu putih sudah diikat satu per satu. Sisa tenaganya hanya cukup untuk mengangkat tiga karung itu ke rumah Wasikan.

Truk milik Perhutani tak kunjung tiba. Langit mulai mendung. Wasikan tak berharap turun hujan. Ia bergegas masuk rumah.

Itu keluhan kali pertama Wasikan. Ada atap rumahnya yang belum ditutup sempurna. Masih menyisakan sedikit lubang. Jika hujan turun, air pasti menggenangi lantai rumahnya.

***

Cintiya menelepon suaminya yang sedang kampanye pemilihan kepala desa Kedung Keris. Ia bermaksud meminta bantuan membawa pengeras suara ke lokasi latihan Gejug Lesung, salah satu kesenian khas Gunung Kidul yang dijadikan cara mencegah tindak bunuh diri.

Sayang, tak ada jawaban dari sang suami. Cintiya bergegas berjalan menuju tempat latihan. Berharap ada laki-laki yang bisa dimintai tolong membawa pengeras suara. Di lokasi latihan, sudah berkumpul 15 lansia. Sayang, Wasikan tak da di sana.

Malam itu, jadwal rutin latihan Gejug Lesung. Lampu penerangan mulai dinyalakan. Pengeras suara sudah siap. Sejumlah lansia mulai berdiri di tempatnya masing-masing. Ada yang memainkan lesung, dan ada yang bernyanyi.

Semua terlihat ceria. Tatapan kosong dan merasa kesepian tidak terlihat di wajah para lansia ini.

Gejug Lesung yang dimainkan sudah berhasil mengurangi kekhawatiran Cintiya terhadap upaya tindakan bunuh diri di Desa Kedung Keris.

“Alhamdulilah, banyak lansia yang terhibur dengan Gejung Lesung. Ini salah satu cara kami menghibur lansia di Kedung Keris,” katanya.

Tapi sayang, Gejung Lesung yang dia hadirkan belum mampu membawa Wasikan keluar dari kebun kayu putih dan kembali ke masyarakat.

“Mbah Wasikan memang susah diajak keluar dari kebun. Katanya sudah nyaman di sana,” ucap Cintiya.

“Kami harus belajar lebih banyak lagi. Belajar memahami apa keinginan lansia. Tak mudah, memang. Tapi tak ada cara lain untuk menyelamatkan para lansia,” jelasnya.

***

Wasikan duduk di tubir sebuah batu di antara dua bangunan rumahnya, menanti Cintiya dan relawan LKS Kedung Keris. Beberapa kali Wasikan berdiri di atas batu, memastikan Cintiya benar-benar datang hari itu.

Dari atas batu itulah, Wasikan bisa melihat dari kejauhan orang-orang lalu lalang melewati pokok-pokok pohon kayu putih.

Dari kejauhan, Cintiya dan relawan berjalan tergesa-gesa. Payung yang sedianya untuk melindungi dari teriknya matahari lupa dibuka.

“Maaf mbah telat. Tadi melayat lansia yang baru saja gantung diri,” kata Cintiya sambil sesekali minum air mineral yang disajikan Wasikan.

Mendengar itu, Wasikan berjalan menuju ruang tamu. Disusul Cintiya dan relawan yang lain. Di luar rumah Wasikan, udara terasa sangat panas. Sebuah truk milik Perhutani berhenti di tepi sungai yang kering.

Dua orang keluar dari dalam truk. Berjalan menuju rumah Wasikan yang berjarak 500 meter dari tempat truk itu berhenti. Dua orang itu mengambil 3 karung daun kayu putih hasil panenan Wasikan.

Tak berapa lama, truk meninggalkan kebun kayu putih. Meninggalkan Wasikan dan Cintiya. Meninggalkan seorang lansia yang telah lebih dari 10 tahun tinggal dan berumah di kebun kayu putih itu.

Tapi Wasikan tak sendiri. Ada Cintiya dan relawan LKS Kedung Keris yang akan terus menjaganya. Menjaga Wasikan agar tidak melakukan tindak bunuh diri.

(Visited 153 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here