Mitigasi Bencana di Kampung Cikondang

Bencana yang telah menjadi siklus berulang, melahirkan pengetahuan dan teknologi untuk menyiasatinya. Strategi itupun menjadi kunci mitigasi untuk selamat dari ancaman bencana ke depan.

0
236
views
Ilustrasi. Masyarakat Kasepuhan Karang, Kabupaten Lebak, Banten dengan latar bangunan rumah adat berbahan kayu dan beratap injuk. Foto : Donny Iqbal/Mongabay Indonesia

Artikel : Donny Iqbal

Sinar matahari menyeruak di sela–sela rimbunnya hutan adat Kampung Cikondang Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Siang itu, Anom Juhana (73), Juru Pelihara, bergegas pulang dari Bumi (Sunda: rumah) adat.

Juhana adalah kuncen generasi ke-5. Di usia senjanya, dia setia merawat rumah panggung sepanjang 12 meter dan lebar 8 meter.  “Bangunan ini ibarat jati diri,” katanya saat ditemui di rumah tradisional yang berpondasi bambu dan kayu serta beratap ijuk beberapa waktu lalu.

Agaknya, bumi adat yang berusia 300 tahun itu merupakan satu-satunya rumah tradisional yang tersisa. Tempat bermukim, yang erat kaitannya dengan kebudayaan masyarakat lokal.

Bisa jadi sebagian orang tak lagi mengenali rumah tradisional. Padahal, katanya, rumah panggung memiliki makna mendalam. Panggung berasal dari kata pang dan agung. Artinya, yang diletakkan paling tinggi atau tertinggi.

Itu sejalan dengan pola keseimbangan hidup masyarakat Sunda. Dimana tersirat tuntunan keselarasan hubungan vertikal (interaksi diri dengan Tuhan) dengan hubungan horizontal (interaksi diri dengan sesama makhluk dan alam).

Manifestasi ini begitu nampak pada bangunan rumah panggung. Terlihat sederhana, tapi itu menggambarkan masyarakat Sunda yang sederhana dan mudah beradaptasi.

Satu alasan rumah dibuat panggung dan tidak langsung menyentuh tanah, agar tidak mengganggu resapan air. Pasalnya, rumah tradisional Sunda itu terletak di kaki Gunung Tilu, di hulu Sungai Cisangkuy yang bermuara ke Sungai Citarum.

Sehingga pantang mengubah atau meratakan tanah saat akan membangun rumah. Tak adanya rekayasa, bertujuan supaya terhindar dari tanah longsor dan banjir bandang.

Meratakan tanah berarti merusak. Jika demikian, akan mengganggu jalannya air hujan. Dengan demikian, masyarakat Sunda berharap alam akan ramah kepada mereka. “Karena penamaan Kampung Cikondang bermula dari kata cai dan kondang, sumber air yang dikenal. Sebuah keharusan menjaganya,” terang Juhana.

Bumi adat yang berdiri di atas lahan tiga hektare ini sudah membagi tata ruang dalam tiga wilayah. Pertama, hutan larangan, ini dijadikan penyangga kawasan yang tak boleh diganggu.

Jika masuk ke hutan, diwajibkan tak mengenakan alas apapun. Tujuannya, kata Juhana, demi menanamkan rasa hormat supaya tak berbuat angkara.

Kedua, lahan garapan dijadikan sebagai kawasan pemanfaatan sebagai penghidupan warga, termasuk kolam, ladang dan sawah. Ketiga, kawasan untuk pemukiman dipilih tanah berkontur lebih landai.

Mitigasi Bencana

Sebenarnya, bencana yang telah menjadi siklus berulang, melahirkan pengetahuan dan teknologi untuk menyiasatinya. Strategi itupun menjadi kunci mitigasi untuk selamat dari ancaman bencana ke depan.

Kampung Cikondang adalah contoh mitigasi berbasis kearifan lokal. Bagi masyarakat Sunda, menyatu dengan alam merupakan konsep dasar. Dengan nilai filosofis yang terkandung dalam arsitektur rumah tradisional Sunda secara umum ditujukan untuk menghormati alam sekelilingnya.

Dengan lantai panggung setinggi 60-80 cm dari tanah, tiang dari kayu jati atau suren, sambungan yang dikatkan pen dan pasak, atau diikat tali ijuk maupun rotan. Lalu dibagian pondasi diletakan diatas batu, merupakan teknologi yang ditemukan secara empiris.

Kontruksi semacam itu, dikagumi Dosen Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung, Sugeng Triyadi. Menurutnya, sistematika bangunannya kerap bersandingan dengan pengetahuan tentang topografi.

Sugeng berkeyakinan arsitektur adat sebenarnya telah melalui uji coba alam hingga diterima masyarakat. “Prosesnya panjang sekali sampai menemukan yang sesuai dengan karakteristik tempat tinggal meraka,” jelasnya.

Dalam penyusunan konstruksi rumah, sambungan satu tiang dengan tiang lain tidak menggunakan paku atau material logam lainnya, melainkan material yang sudah ada di alam, seperti tali ijuk ataupun pasak bambu atau disebut sistem ikat dan paseuk. Paku atau material logam lainnya sebenarnya tidak tabu digunakan, tapi benda itu akan menambah beban, sehingga menjadi berat.

Kendati begitu, material itu memenuhi salah satu persyaratan bangunan tahan gempa, yaitu bermaterial ringan. “Secara umum, konsep dasar rancangan arsitekturnya menyatu dengan alam,” kata Sugeng. Bahkan, Sugeng memprediksi, “Gempa diatas 7 skala Ricther bangunan itu tidak akan roboh.”

Juhana mengenang, tatkala gempa 7,3 skala Ritchter mengguncang pada 2009 lalu. Bumi adat tetap kukuh berdiri. Bahkan, pernah juga diterjang gempa akibat Gunung Galunggung meletus pada 1984. Kondisinya pun tetap sama. Kukuh dan tak goyah. “Seolah-olah bumi mengikuti guncangan,” kenangnya.

Sejak itu, Juhana mengaku, banyak arsitek dari beragam perguruan tinggi sengaja datang demi menggali informasi di Cikondang. Tak sebatas itu, peneliti di luar negeri seperti Belanda, Jepang dan Jerman sampai tertarik mendalami sistem konstruksinya.

Sugeng mengatakan, rumah tradisional terbukti tanggap terhadap bencana. Sejak awal, orang tua jaman dulu sudah memiliki perhitungan menyoal membangun rumah.

Kayu pondasi rumah adat sengaja tak ditanam dalam tanah layaknya rumah modern. Perhitungan lain yang membuat rumah tradisional tahan gempa adalah bahan kayu yang lentur. Pada sambungan, bahan kayu yang tak dipaku mati sehingga mampu bergoyang.

Bagi Sugeng, kearifan lokal sangat penting dilestarikan. Di Jawa Barat sebagai salah satu daerah rawan gempa, kearifan lokal seperti rumah panggung harus dijaga. Meski dianggap kuno atau tradisional, tipe rumah panggung biasanya lebih aman dari getaran. Rumah panggung juga relatif bisa meminimalisasi risiko kehancuran bangunan yang terjadi akibat gerakan tanah.

“Rumah mampu bergoyang mengikuti gempa. Selain itu, jika terjadi longsor rumah panggung tidak hancur melainkan mengikuti arah gerak tanah,” katanya.

Ancaman Sesar Lembang

Cikondang berjarak 33 km dari Kota Bandung. Tidak terhitung banyaknya analisis yang menyebutkan Bandung rawan terjadi gempa bumi besar.

Yang paling menyita perhatian adalah kajian yang mengulas Sesar Lembang yang memanjang 29 km arah timur-barat di utara Bandung. Sesar aktif dengan mempunyai gerakan geser sinistral (ke kiri) diperkirakan laju kecepatan gerak geser sesar ini sekitar 3-5,5 mm/tahun.

Jika diidentifikasi, sesar berpotensi memicu gempa berkekuatan Magnitudo 6,5-7. Sebelumnya, data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), gempa besar terakhir kali terjadi sekitar abad ke-15 atau berkisar tahun 1450-1460.

Kendati demikian, gempa belum dapat diprediksi. Oleh karena itu, ancaman gempa Sesar Lembang mengancam lebih dari 3 juta orang di wilayah Bandung Raya mutlak diwaspadai. Apalagi kepadatan penduduk dan sumber gempa di dekat perkotaan menjadi salah satu faktor tingginya kerusakan jika terjadi gempa besar di patahan Lembang.

Tak hanya itu, kawasan Cekungan Bandung terdiri dari tanah dan sedimen lunak dari bekas endapan danau purba juga sensitif pada guncangan gempa. Sugeng mafhum. Masyarakat masa kini sudah tak bisa lagi memilih tempat tinggal ideal. Akibat terlalu padat dan besarnya tekanan penduduk.

“Sayangnya, pemahaman kontruksi warisan orang tua kita sudah tak lagi dilirik. Padahal itu upaya menyelamatkan tinggal di wilayah rawan bencana,” terang Sugeng.

Bangunan dari tembok, kata Sugeng, sebenarnya bisa tahan gempa asal diperkuat dengan tulangan dan teknik sambungan yang sesuai standar. Namun, tranformasi dari prinsip membangun rumah tahan gempa yang dimiliki arsitektur tradisional yang sudah ada sejak dulu ke bangunan modern itu tak terjadi.

Selain pengetahuan terkait hidup selaras dengan alam, masyarakat Kampung Cikondang juga melestarikan warisan leluhur lainnya. Upacara adat yang masih hidup dan dilaksanakan secara periodik antara lain seren taun mapag taun (wuku taun), ngaruat lembur yang diadakan di tengah kampung, dan hajat susukan untuk memeriksa irigasi sawah.

“Semuanya dilakukan untuk mengingatkan bahwa kita punya budaya,” kata Juhana.

Artikel ini merupakan konten kolaborasi dengan Mongabay Indonesia. Konten serupa bisa dibaca di sini

(Visited 38 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here