Surat untuk Bupati Tapanuli Tengah

0
213
views
Penulis bersama warga Desa Aek Bontar, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah. Sumber foto: Dokumentasi pribadi
  • Artikel
  • Pak Bupati yang saya hormati, perkenalkan saya mahasiswa Ilmu Komunikasi semester akhir di Medan, saya baru saja pulang penelitian untuk skripsi saya di Desa Aek Bontar, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah.

    Hanya berjarak sekitar 30 Km dari pusat kota Sibolga. tapi jangan ditanya pak, berapa waktu tempuh saya ke desa tersebut.

    Jalan berbatu menanjak, bahkan pada satu tanjakan, mobil yang membawa kami harus mencoba 4 kali agar bisa melewati lincinnya tanah merah akibat aspalnya terkelupas Pak.

    Rasanya tak adil Pak, bila keluh kesah masyarakat ini tak saya sampaikan, yakinlah Pak niat saya hanya menyampaikan pesan atas fakta yang saya dapati di desa tersebut.

    Tidak ada motif politik apalagi keinginan menjadi pesaing Bapak menjadi Bupati.

    Saya percaya dari informasi yang saya dapat, Bapak adalah kepala daerah energik yang memiliki visi yang baik.

    Pertama Pak, warga desa sekitar 60 KK - 300 jiwa itu tidak ada fasilitas pendidikan, saya membayangkan bagaimana lelahnya perjalanan menanjak anak-anak usia Sekolah Dasar bersekolah ke desa tetangga.

    Jaraknya berjalan kaki lebih kurang satu jam Pak. syukur-syukur jika orangtuanya memiliki sepeda motor Pak. Sebab tidak ada angkutan pedesaan atau sejenisnya.

    Lebih mengkhawatirkan lagi Pak, satu persatu warga desa mulai pindah, menurut penuturan warga setahun terakhir ada 6 KK terpaksa mengungsi keluar desa karena sulitnya beban ekonomi dan minimnya mata pencaharian alternatif.

    Petaka ini dimulai sejak anjloknya harga karet dan tak kunjung membaik, mayoritas penduduk desa bergantung pada komoditi karet Pak. Komoditi tunggal harapan untuk hidup selain tanaman durian.

    Belum maksimalnya akses transportasi ke daerah ini mempersulit distribusi barang dan jasa Pak, jika ini dibiarkan, bukan tak mungkin desa ini semakin terisolir dan tertinggal.

    Misalnya di tengah anjloknya harga karet. warga semakin terbeban dengan biaya angkut komoditi yang tinggi.

    Alih-alih mendapat untung, lelah warga ke kebun tak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan Pak.

    Alhamdulillah, desa ini telah mendapatkan sentuhan aliran listrik pada Ramadhan tahun ini Pak.

    Inilah pertama kali sejak desa ini ada. Adanya aliran listrik ini menunjukkan ada upaya pemerintah untuk tidak 'meninggalkan' desa ini.

    Warga desa kini butuh pemerintah (lagi) Pak, mengatasi anjloknya harga karet agar ekonomi warga bisa kembali normal.

    Misalnya dukungan komoditi pertanian alternatif pak, tentunya dengan pendampingan ahli pertanian.

    Sebab pengetahuan masyarakat terbatas dengan komoditi selain karet yang telah turun temurun berzaman.

    Warga desa butuh perbaikan jalan pak, agar ongkos angkut komoditi bisa ditekan, sehingga penjualan komoditi bisa dirasakan masyarakat dengan wajar.

    Setelahnya pak, sebagai kewajiban utama mencerdaskan kehidupan bangsa, alangkah mulianya hati Bapak sebagai kepala daerah.

    Apabila bapak wujudkan impian warga bisa memiliki sekolah dasar di desanya, agar anak-anak bisa mendapat akses pendidikan dengan baik dan selayaknya.

    Saya melihat Pak, di desa ini ada sungai bersih, dari nama sungai inilah nama desa ini diambil. Aek Bontar (Air Putih/Jernih).

    Barangkali sungai ini bisa dimanfaatkan untuk budidaya perikanan air tawar Pak, sehigga bisa menjadi alternatif mata pencaharian warganya.

    Surat ini saya tulis, memenuhi niat saya sebelum meninggalkan desa tersebut. desa penuh kesan dengan masyarakat yang ramah.

    Semoga ini sampai ke Bapak Bupati dan bisa menjadi bahan pertimbangan Bapak untuk berkunjung ke desa ini sambil menyeruput kopi secangkir dua cangkir bersama warganya.

    Bahu membahu mencarikan solusi terbaik dari sekelumit persoalan yang sedang dihadapi.

    Terimakasih banyak Pak. semoga Tuhan senantiasa melindungi Bapak.

    Hormat Saya.

    [Sumber tulisan ada di sini]

    [Penulis adalah seorang pedagang kopi pinggir jalan. Tiggal di Medan, Sumatera Utara]

    (Visited 47 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here