Wisata Halal tak Menggusur Kearifan Lokal

Wisata halal sebenarnya sederhana saja. Tapi provokasi orang-orang yang tidak paham, membuatnya jadi terlihat rumit

0
194
views
Di Kashmir, India. Foto: Dok. pribadi
  • Artikel Khairiah Lubis
  • Negara-negara yang kini antusias menerapkan wisata halal: Jepang, Inggris, Jerman, Thailand dan Korea Selatan.

    Saya sengaja memulai tulisan ini dengan menyebutkan sejumlah negara yang sekarang giat menerapkan konsep wisata halal.

    Mengapa negara-negara ini sibuk menyiapkan wisata halal? Karena ingin menggaet turis yang berasal dari negara yang mayoritas muslim, seperti Malaysia dan Indonesia.

    Lalu mengapa wisawatan muslim perlu wisata halal?.

    Kisah traveling saya ini barangkali bisa membuka pikiran para sahabat tentang apa yang dibutuhkan saat berjalan-jalan.

    Wisata halal sebenarnya sederhana saja. Tapi provokasi orang-orang yang tidak paham, membuatnya jadi terlihat rumit.

    Wisata halal itu bicara tentang fasilitas yang dapat digunakan wisatawan muslim saat sedang berwisata ke suatu tempat.

    Misalnya, makanan halal, tempat ibadah, dan kondisi lingkungan yang bersih.

    Sekitar 6 tahun lalu, tepatnya 2013, saya traveling dari Selatan Thailand hingga ke Utara. Menggunakan jalur darat yaitu bus.

    Kota pertama yang saya kunjungi, Hat Yai. Hat Yai merupakan wilayah Thailand yang mempunyai warga muslim terbesar.

    Ada banyak masjid dan tempat makan yang halal. Supir Tuktuk kami, Pak Man, juga seorang muslim.

    Tidak sulit bagi saya untuk mencari makanan yang dapat saya makan. Saya mengunjungi kuil dan juga mesjid di Hat Yai.

    Jalan-jalan saya lancar, dan Ibadah tetap terjaga di Hat Yai.

    Seharian di Hat Yai, saya melanjutkan perjalanan ke Phuket pada malam hari.

    Saya tiba di terminal Phuket pukul 04.00 pagi. Dari terminal dijemput oleh orang baik menuju dermaga yang akan membawa wisata ke Phi Phi Island dengan Cruise atau kapal pesiar.

    Di dermaga, saya ingin salat subuh. Tapi tidak ada tempat salat di sana.

    Komunikasi yang terhambat akibat orang Phuket yang tidak paham bahasa Inggris dan saya yang tidak mengerti bahasa Thailand, membuat bahasa isyarat yang coba saya bangun dengan orang Phuket pun kandas.

    Mereka tidak paham kalau saya butuh tempat salat. Dan di dermaga tidak ada tempat salat.

    Akhirnya saya menumpang salat di sebuah sudut kantor travel tempat saya membeli tiket ke Phi phi island.

    Tahun lalu, saya traveling ke Vietnam dan Kamboja. Dari tanah air, saya sudah menyiapkan bekal makanan beberapa hari karena khawatir sulit mencari makanan halal di sana.

    Tapi ternyata pikiran saya salah. Di Shiemrap, Kamboja, saya justru dibawa ke rumah makan muslim yang di depannya berdiri masjid yang besar.

    Di Vietnam, tak jauh dari hotel kami, banyak restoran milik orang Malaysia yang tentu saja menjual makanan halal.

    Tukang masak di hotel kami di Vietnam bukan muslim, tapi dia sangat menghargai bahwa kami muslim. Saya merasa nyaman di hotelnya.

    Akhir Februari hingga Maret lalu, saya traveling ke Khasmir dan sejumlah kota di India seperti New Delhi, Jaipur dan Agra.

    Di Khasmir, saya merasa seperti di kampung sendiri. Provinsi yang dihuni oleh mayoritas muslim ini begitu hangat menyambut tamu-tamu dari Indonesia.

    Saya tidak kesulitan untuk makan dan ibadah di sana. Keluar dari Khasmir, saya ke Agra, Jaipur dan New Delhi.

    Berbekal Google maps, kami menemukan restoran halal. Jalan-jalan lancar, makan tak terkendala, ibadah juga tak terhambat.

    Jadi bagi para pejalan seperti saya ini, fasilitas yang menjamin saya bisa makan dan ibadah dengan lancar saat sedang traveling, itu paling utama.

    Karena bagaimana mau jalan-jalan kalau kita takut makan dan tidak bisa beribadah?

    So, teman-teman semua, mari buka hati kita, ada kami, sahabat-sahabat kalian yang berbeda.

    Bisakah kita saling menjaga dan bertenggang rasa? Bisakah selalu menjadi tuan rumah yang baik untuk sahabat-sahabat se-Nusantara?

    [Tulisan aslinya bisa dibaca di sini]

    [Penulis adalah seorang jurnalis di DAAI TV Medan. Tergabung dalam Forum Jurnalis Perempuan Indonesia. Tinggal di Kota Medan]

    (Visited 92 times, 1 visits today)
    Please follow and like us:
    error

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here